Kenapa Bung Karno di Makamkan di Blitar?

Mengapa mantan Presiden Soekarno dimakamkan di Blitar? Selama ini, isu-isu yang melatarbelakangi hal ini adalah upaya pemerintah Orde Baru melanggengkan kekuasaannya. Soekarno diyakini memiliki massa fanatik yang bisa mempengaruhi usia kepemimpinan Soeharto. 


Tapi, benarkah itu? Pak Harto mempunyai jawaban. Dia memiliki alasan kuat mengapa dirinya memutuskan memakamkan Proklamator itu di Blitar. Namun, Pak Harto tidak menyinggung mengapa Bung Karno tidak dimakamkan di Tamah Makam Pahlawan Kalibata atau tempat pemakaman di Jakarta. 

Yang jelas, menurut Pak Harto, keputusannya untuk memakamkan Bung Karno di Blitar ditentang sebagian keluarga Bung Karno. Berikut ungkapan Pak Harto seperti tertuang dalam buku Otobiografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH yang diterbitkan oleh PT Citra Lamtoro Gung Persada:

"Keputusan pun saya ambil: pemakaman dilaksanakan dengan upacara kenegaraan.

Kemudian timbul masalah: di mana pemakaman itu harus kita lakukan? Kami ingat akan wasiatnya. Kami ingat bahwa permintaan almarhum semasa hidupnya, jenazahnya hendaknya dimakamkan di satu tempat di mana rakyat dapat datang seperti dipesankan kepada Dewi. Pesannya kepada Hartini pun begitu. Tetapi keluarga yang lain mempunyai pandangan yang lain lagi. Ternyata keinginan keluarga Bung Karno yang banyak itu berbeda-beda. 

Andaikata kita serahkan kepada keluarga besar yang ditinggalkannya, maka saya melihatnya bakal repot. 

Maka kemudian saya memutuskan dengan satu pegangan yang saya jadikan titik tolak, yakni bahwa Bung Karno sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya. Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau akan bepergian ke tempat jauh, ke mana pun, beliau sungkem dulu, meminta doa restu kepada ibunya. Setelah itu, barulah beliau berangkat. Sekalipun beliau adalah seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi, terpelajar, beliau toh tetap hormat kepada ibunya. Ini merupakan teladan bagi generasi yang akan datang. 

Melihat kebiasaan Bung Karno begitu, maka saya tetapkan bahwa alangkah baiknya kalau Bung Karno dimakamkan di dekat makam ibunya di Blitar. Inilah alasan saya dan keputusan saya berkenaan dengan pemakaman proklamator kita itu. 

Ada terdengar familinya yang protes. Demikian juga di antara istri-istrinya dan di antara putra-putrinya. Tetapi, kalau saya turuti keinginan mereka, saya pikir, takkan ada penyelesaian. 

Maka saya ambil oper seperti demikian. Soal nanti, terserah. Yang jelas, kemudian segalanya berjalan dengan baik. 

Dalam rangka mikul dhuwur mendhem jero, kita buktikan lagi dengan keputusan berikutnya. Kita pugar makam Bung Karno itu sehingga merupakan makam yang representatif, yang pantas sebagai makam pahlawan yang dihormati oleh bangsanya.

Bukti yang lain lagi adalah bahwa sampai sekarang makam itu dihormati orang. Banyak yang berziarah ke sana. 

Di tahun 1980, kita dirikan patung kedua proklamator kita: Bung Karno dan Bung Hatta, di halaman bekas tempat dikumandangkannya proklamasi. 

Di tahun 1985, saya berketetapan untuk bandar udara di Cengkareng, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menghormati kedua proklamator kemerdekaan kita. 

Di tahun 1986, kita tetapkan beliau bersama Bung Hatta sebagai pahlawan proklamator."

Sumber : http://news.detik.com/read/2008/01/17/163724/880494/10/kenapa-soekarno-dikubur-di-blitar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar